Thursday, June 22, 2006

PANTASKAH KITA BERHARAP SYURGA ?

PANTASKAH KITA BERHARAP SYURGA ?

Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua
rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah
jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas
selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah
yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum
maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk
catatan: "Kalau tidak terlambat" atau "Asal nggak bangun kesiangan".
Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?

Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya
dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki
mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya.
Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang
Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang,
segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan,
kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas
sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

Baca Qur'an sesempatnya, itu pun tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi
meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari
lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda
orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah
hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun
tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku
beriman?

Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk
meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka
terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam
dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka
hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang
akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah
indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan
tertinggi.

Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, dipilih mata uang
terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik
terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti
sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal
yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau
sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?

Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur
lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata
milik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan
semata teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa
penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada
musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba
beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga
sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi
permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah
tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan
kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiap
kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau
mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam
dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan
Rasulullah kelak?

Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang
beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang
berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita
menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus
bermuka masam terhadap saudara sendiri?

Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua
kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah
lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa
pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka
besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga
darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?

Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang
disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang sejak
kecil tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali
beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya
kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk
dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat
dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi
mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil
orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan
kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.

Astaghfirullaah ...

(Sabar, Ikhlas, Cinta....Hakiki) and ( Hidup untuk mati untuk Hidup)Keep Smile In The Spirit. :) ^_^

Thursday, June 15, 2006

Selamat Tidur Sayang....

Selamat Tidur Sayang....

Sayang... Selamat Malam..
Sayang... Selamat Tidur..
Sayang... Mimpi Indah...
Tentang Kau dan Aku...
Pangil Nama Ku Sebelum Tidur
Agar Ku Hadir Dalam Mimpi Mu..
Kitakan Bertemu di Atas Awan...
Berdua ...Selaluberdua....

Selamat tidur....
Mimpi indah.....

By. Iwan Fals

Tuesday, June 13, 2006

Lagu dan Doa Seorang Ayah

Lagu dan Doa Seorang Ayah

Ku tak bisa ... jauh.... jauh...... dari.... mu.......
Ku tak bisa ... jauh.... jauh..... dari.... . mu.......
Oh Tuhan ku.... tolonglaa... jagakan.... lindungi.... mereka......
Oh Tuhan ku.... tolonglaa... sehatkan... kuatkan... dia.... di sana....
Ini doa... dari... ayahnya.... yang merindu..... akan.......
Candanya..... senyumnya..... tawanya.... tangisnya.....
Oh tuhan ku........ kabulkan.... doa ku...... agar aku.........
Tenang.... di sini........

Amin....

Thursday, June 08, 2006

Macet lagi - Macet Lagi

Sedikit bercerita kejadian pagi ini.....
Seperti Biasa... pagi ini Ayah azka pergi kekantor... bersamaan dengan tantenya azka.. karena kantornya tidak terlalu jauh dengan Ayah....begitu mau memasuki wilayah TOL sudah terlihat kemacetan... yang cukup panjang.... dan terlihat juga pak polisi yang sibuk mengatur kendaraan, kamipun berhenti sejenak tuk melihat-lihat ada celah tidak tuk menerobos... kemacetan itu dan akhirmya kamipun menerobos kemacetan itu.... di karenakan ada janjian di kantor.. setelah sesampai di tengah TOL itu barulah kelihatan akar permasalahan yang menyebabkan kemacetan panjang itu..
pertama : sebuah pik up yang membawa besi ronsokan yang melebihi kapasitas
kedua : sebuah mobil kijang yang mogok (ya dikarenakan mobil pik up itu....)
Dan akhrinya kamipun sampai di kantor...... Alhamdulillah.....

Sunday, June 04, 2006

Alhamdulillah...Masih Rejeki Kami....

Hari sabtu pagi sekitar jam 06.00 ayah bunda dan azka pergi kepasar... (belanja gitue..) sekitar satu setengah jam kemudian kamipun bergegas pulang... dan mampir sebentar... tuk beli sate.... sewaktu mau bayar... bertapa terkejutnya.... bunda melihat uang di saku celana dan di dompet tidak ada.... yang ada hanya uang recehan semua....kamipun bergegas kepasar lagi... kami melihat2 disekitar dan tempat parkir ayah.... betapa senangnya kami... melihat uang itu masih ada di antara motor2 di parkiran itu... Alhamdulillah... kata saya dan bunda... ternyata uang ini masih rejeki kami........ dan kamipun pulang sambil tersenyum2....

Friday, June 02, 2006

Pegel - pegel semua badan ini....

Bismillahirrahmanirrahim

Kemaren dulu sewaktu azka sakit banyak sekali meninggalkan pakaian kotorrr dan juga pakaian ayah bunda... karna bunda tak sempat mencuci... dan setelah azka baikkan kemaren pas jam 16.30 bunda azka merendam semua pakaian.

Bisa di bayangkan.......berapa banyak pakaian kotor.... kira-kira dua baksom besarrrr dan satu baksom kecil..... setelah semua di rendam .... sekitar selepas sholat Isya.... (19.15) kami berdua bertempur dengan cucian tersebut.... dan mau tau selesainya jam berapa.........?????? jam 22.45 sekitar 3 jam lebih.... bisa di bayangkan.... pegelnya badan ini.... tapi itu belom di rasakan... karna setelah selesai saya duduk tersandar di kursi panjang.. didepan teras rumah.. dengan mengenakan baju kaos dalam dan kain sarung....
Setelah saya rasa cukup istirahanya.. kami masukkan azka kemar dia sedang tertidur lelap sehabis bermain dengan adik saya... dan kami pun tertidur lelap juga.... menembus malam itu.... dan paginya saya bangun...... terasa kaku ini badan semuanya.... dan pegel-pegel semua... seperti habis kerja di pelabuhan aja..... leher terasa sakit... pinggang juga...tanggan apakan lagi......
Tapi itu semua ayah dan bunda lakukan dan kerjakan dengan iklas dan dengan senang hati........
Wassalam