Thursday, September 20, 2007

PANTASKAH KITA BERHARAP SYURGA ?

Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya duarakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlahjarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekasselesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadahyang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelummaupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasukcatatan: "Kalau tidak terlambat" atau "Asal nggak bangun kesiangan".Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?
Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnyadengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kakimereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya.Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah YangMaha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang,segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan,kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atassajadah-sajadah penuh tetesan air mata.
Baca Qur'an sesempatnya, itu pun tanpa memahami arti dan maknanya, apalagimeresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir darilidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tandaorang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlahhatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu puntidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngakuberiman?
Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untukmeredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali merekaterhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalamdari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang merekahiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yangakan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidahindah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalantertinggi.
Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, dipilih mata uangterkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baikterhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan baktisosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amalyang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalausudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?
Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tuturlembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan sematamilik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukansemata teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasapenuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepadamusuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlombaberamal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.
Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetanggasebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapipermusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpahtujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dankejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiapkali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka ataumendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalamdada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah danRasulullah kelak?
Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orangberiman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yangberkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kitamenjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terusbermuka masam terhadap saudara sendiri?
Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tuakurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalahlagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apapun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah merekabesarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, jugadarah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?
Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yangdisebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang sejakkecil tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kalibeliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnyakita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untukdikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangatdan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagimendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggilorang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkankehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.
Astaghfirullaah ...
(Sabar, Ikhlas, Cinta....Hakiki) and ( Hidup untuk mati untuk Hidup)Keep Smile In The Spirit. :) ^_^

0 comments: